Kamis, 17 Apr 2014
You are here: Home Kegiatan Kegiatan Dalam Sekolah MEMUTUS MATA RANTAI SEGI TIGA API
MEMUTUS MATA RANTAI SEGI TIGA API PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Rabu, 05 Desember 2012 05:40

PELATIHAN DAMKAR UNTUK GURU DAN KARYAWAN

EHIPASSIKO SCHOOL BSD:

“MEMUTUS MATA RANTAI SEGI TIGA API”

 

Selasa, 4 Desember 2012, segenap guru dan staff kependidikan (karyawan) Ehipassiko School BSD antusias melakukan Pelatihan Pemadam Kebakaran (Damkar) sebagai salah satu upaya pemenuhan standar keamanan gedung sekolah dan keselamatan warga sekolah.

Tidak tanggung-tanggung, kali ini Ehipassiko School BSD mendatangkan Instruktur Pelatihan Damkar langsung dari Dinas Penanggulangan Bencana dan Kebakaran Kab. Tangerang  yang sudah berpengalaman selama 15 tahun, yaitu Bapak Suratman dibantu oleh Bapak Dery Pratama. Pelatihan dibagi menjadi dua sesi, sesi teori dan sesi praktik (simulasi pemadaman kebakaran).

 

Sesi teori berlangsung di ruang RSG SD Ehipassiko mulai pk.14.15 s.d. pk. 15.15. Dengan bahasa yang sederhana tetapi mengena dan kadang diselingi humor, para guru  dan staf kependidikan menyimak dengan baik paparan materi yang disampaikan  oleh Bapak Suratman. “Apakah kebakaran itu?”, tanya Pak Suratman kepada para peserta pelatihan.  Kebakaran adalah kobaran api yang tidak terkendali dan dapat mengakibatkan  kerugian materi (harta benda) bahkan memakan korban nyawa. Materi yang disampaikan meliputi pengertian kebakaran, klasifikasi kebakaran, teori  segitiga api, faktor-faktor penyebab kebakaran, penanggulangan dan pencegahan kebakaran.  Yang paling menarik adalah teori segitiga api. Timbulnya api disebabkan oleh tiga unsur yaitu panas, oksigen, dan bahan/material. Pemadaman kebakaran dilakukan dengan cara memutus interaksi mata rantai  segi tiga api tersebut. Pemadaman kebakaran dapat dilakukan secara tradisional dan modern (teknologi) dengan memperhatikan jenis kebakarannya (klasifikasi A, B, C, atau D).

 

Practice makes perfect, artinya praktik membuat teori jadi sempurna. Untuk itu pada sesi kedua (sesi praktik) para guru dan segenap staff kependidikan melakukan simulasi pemadaman kebakaran. Simulasi berlangsung di halaman terbuka dekat pintu masuk utama sekolah. Simulasi dilakukan dengan dua cara, cara tradisional dan cara modern. Kali ini kebakaran yang terjadi disebabkan oleh panas, oksigen dan bahan bakar minyak (BBM) atau kebakaran klasiifikasi B (kebakaran karena benda-benda cair yang mudah terbakar). Pemadaman kebakaran  secara tradisional dilakukan dengan menggunakan karung goni yang terlelibih dahulu harus dibasahi air. Simulasi pemadaman kebakaran dengan cara tradisional berlangsung aman-aman saja. Wah, tampaknya guru-guru dan karyawan Ehipassiko sudah dapat menerapkan ilmu pemadam kebakaran.

Simulasi kedua dengan menggunakan cara modern (alat pemadam kebakaran api ringan) tidak berlangsung mulus. Alat pemadam kebakaran yang digunakan ada dua macam, tabung yang berisi serbuk (powder) dan tabung yang berisi gas. Simulasi pemadaman api dengan tabung yang berisi serbuk (powder) berjalan aman. Namun simulasi dengan tabung yang berisi gas memakan “korban”. Ketika seorang guru mencoba mempraktikkan memadamkan kobaran api dengan alat pemadam kebakaran tabung gas, apa yang terjadi?  Kobaran api semakin membesar dan alhasil....si jago merah menyambar rambut kepala sang guru. Mengapa itu bisa terjadi? Karena teknik pemadamannya yang belum tepat. Rupanya sang guru langsung memadamkan titik apinya dan ini menyebabkan titik api semakin membesar yang dipicu oleh angin yang kencang. Sang instruktur pun memberikan penjelasan bahwa untuk memadamkan kobaran api dengan tabung pemadam kebakaran yang berisi gas ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu arah angin, jarak penyemprotan, sudut/arah penyemprotan dan jangan langsung mengarah pada titik apinya. Simulasi damkar berakhir pukul 16.55.  Dari kegiatan pelatihan ini kita dapat belajar bahwa latihan penanggulangan kebakaran memang perlu, tetapi di atas semua itu bagaimanapun mencegah kebakaran lebih baik dari pada memadamkan kebakaran. Caranya mudah, hindari terjadinya interaksi tiga unsur segi tiga api yaitu panas, oksigen, dan bahan/materialnya. (sunar @2012).